Cita di Ujung Mimpi (Bagian-04)

 

Sebagaimana janjiku kepada Fath, hari ini aku akan berangkat ke ibu kota guna memperbincangkan lebih lanjut mengenai profesi guru yang ia tawarkan. Setelah sarapan pagi, tepatnya pukul tujuh, aku berpamitan kepada kedua orangtuaku. Dengan sebuah tas sandang serta sebuah koper kecil seukuran tas sandangku, aku berjalan perlahan di trotoar menuju stasiun kereta api. Kebetulan, rumahku hanya berjarak satu setengah kilometer dari stasiun, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki. Kereta yang aku pesan akan berangkat meninggalkan kota ini pukul sembilan tepat. Kini, matahari seakan malu menampakkan diri. Ia bersembunyi di antara gumpalan awan yang bertebaran layaknya kapas di seantero cakrawala. Ketika berjalan, aku teringat dengan nasehat yang diberikan Mail kepadaku tempo hari tentang kesadaran.

Setelah pertemuanku dengan Mail, aku mencoba menyisihkan waktu untuk berjalan pagi—sekitar pukul enam. Aku berjalan mengelilingi komplek kediamanku. Aku menyaksikan kesibukan dinamis yang seakan sangat sistematis disekitarku. Tak hanya itu, suasana alam yang tidak bisa ku gambarkan dalam kata menyeruak masuk kedalam diriku, seakan mengatakan ‘selamat pagi Ra’ dengan pelukan erat hangat rindu seorang ibu kepada anaknya. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Aku berpikir, bukankah aku sudah melalui pagi yang tidak terhitung jumlahnya semenjak aku dewasa, kenapa baru saat itu aku merasakan sensasi yang begitu mendebarkan hati. Apa yang membedakannya dengan pagi-pagi yang lalu? Apakah karena ‘kesadaran’ yang disampaikan Mail kala itu? Apakah selama ini aku menjalani kehidupan dengan cara yang salah?

Saat itu adalah momen aku mendapatkan sebuah pencerahan, kebangkitan kembali hal yang selama ini tertidur pulas jauh di dalam diriku. Ini bukan hanya sekadar tentang realitas yang ter-indera belaka. Lebih dalam dan jauh dari itu. Aku perlu mengakui bahwa selama ini aku hanya melihat dunia sebagai hal materi yang dapat diukur dengan angka-angka belaka. Sesuatu yang harus disesuaikan dengan logika dan rasio yang sudah manusia capai hingga hari ini. Aku tertegun, bukankah perasaan yang aku rasakan saat itu tidak dapat diukur dengan angka. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa perasaan senangku melihat keindahan pagi ada di angka 10 atau angka 9—seakan angka dapat menampung rasa. Bukankah itu mereduksi makna kesenangan itu sendiri? Haha, masih ada banyak hal yang perlu aku dalami dan pelajari. Bukan soal teknisnya, tetapi soal filosofis akan hakikat dari realitas tempat aku berada saat ini.

Setelah berjalan sejauh satu setengah kilometer, aku sampai di stasiun kota. Aku segera masuk dan duduk menunggu di bangku penumpang. Dengan melihat ada begitu banyak orang di ruang tunggu kereta ke ibu kota, aku berpikir bahwa setiap gerbong kereta akan dipenuhi oleh penumpang.



TTD- Ali Yasrif

Comments

Post a Comment