Sebagaimana
janjiku kepada Fath, hari ini aku akan berangkat ke ibu kota guna
memperbincangkan lebih lanjut mengenai profesi guru yang ia tawarkan. Setelah
sarapan pagi, tepatnya pukul tujuh, aku berpamitan kepada kedua orangtuaku.
Dengan sebuah tas sandang serta sebuah koper kecil seukuran tas sandangku, aku
berjalan perlahan di trotoar menuju stasiun kereta api. Kebetulan, rumahku
hanya berjarak satu setengah kilometer dari stasiun, jadi aku memutuskan untuk
berjalan kaki. Kereta yang aku pesan akan berangkat meninggalkan kota ini pukul
sembilan tepat. Kini, matahari seakan malu menampakkan diri. Ia bersembunyi di
antara gumpalan awan yang bertebaran layaknya kapas di seantero cakrawala. Ketika
berjalan, aku teringat dengan nasehat yang diberikan Mail kepadaku tempo hari
tentang kesadaran.
Setelah
pertemuanku dengan Mail, aku mencoba menyisihkan waktu untuk berjalan
pagi—sekitar pukul enam. Aku berjalan mengelilingi komplek kediamanku. Aku
menyaksikan kesibukan dinamis yang seakan sangat sistematis disekitarku. Tak
hanya itu, suasana alam yang tidak bisa ku gambarkan dalam kata menyeruak masuk
kedalam diriku, seakan mengatakan ‘selamat pagi Ra’ dengan pelukan erat hangat
rindu seorang ibu kepada anaknya. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Aku
berpikir, bukankah aku sudah melalui pagi yang tidak terhitung jumlahnya
semenjak aku dewasa, kenapa baru saat itu aku merasakan sensasi yang begitu
mendebarkan hati. Apa yang membedakannya dengan pagi-pagi yang lalu? Apakah
karena ‘kesadaran’ yang disampaikan Mail kala itu? Apakah selama ini aku
menjalani kehidupan dengan cara yang salah?
Saat
itu adalah momen aku mendapatkan sebuah pencerahan, kebangkitan kembali hal
yang selama ini tertidur pulas jauh di dalam diriku. Ini bukan hanya sekadar
tentang realitas yang ter-indera belaka. Lebih dalam dan jauh dari itu. Aku
perlu mengakui bahwa selama ini aku hanya melihat dunia sebagai hal materi yang
dapat diukur dengan angka-angka belaka. Sesuatu yang harus disesuaikan dengan
logika dan rasio yang sudah manusia capai hingga hari ini. Aku tertegun,
bukankah perasaan yang aku rasakan saat itu tidak dapat diukur dengan angka.
Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa perasaan senangku melihat keindahan pagi
ada di angka 10 atau angka 9—seakan angka dapat menampung rasa. Bukankah itu
mereduksi makna kesenangan itu sendiri? Haha, masih ada banyak hal yang
perlu aku dalami dan pelajari. Bukan soal teknisnya, tetapi soal filosofis akan
hakikat dari realitas tempat aku berada saat ini.
Setelah
berjalan sejauh satu setengah kilometer, aku sampai di stasiun kota. Aku segera
masuk dan duduk menunggu di bangku penumpang. Dengan melihat ada begitu banyak
orang di ruang tunggu kereta ke ibu kota, aku berpikir bahwa setiap gerbong kereta
akan dipenuhi oleh penumpang.
TTD- Ali Yasrif
Bagian 04- Masih dalam proses penulisan
ReplyDelete